Bencana Banjir, Ulah Pelaku Ilegal Loging dan Alih Fungsi Hutan Kian Meluas di Aceh Timur

Foto : Ilustrasi kerusakan hutan

Banjir yang terjadi di Aceh Timur akhir tahun 2020  tergolong paling terparah dibandingkan tahun-tahun sebelum nya, bahkan banjir besar yang terjadi tahun 2007 yang melanda beberapa kawasan tidak separah banjir yang terjadi hari jumat kemarin 04/12.

Menurut data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah(BPBD) Aceh Timur teradapat 16 Kecamatan yang dihantam banjir meliputi Kecamatan Madat, Pante Bidari, Simpang Ulim, Julok, Indra Makmur, Nurussalam, Darul Aman, Idi Rayeuk, Darul Ihsan, Idi Tunong, Idi Timur, Peudawa, Pereulak Barat, Peureulak, Ranto Peureulak, Peureulak Timur, Sungai Raya dan Birem Bayeun.

Akibat banjir tersebut ribuan masyarakat harus mengungsi disejumlah titik, mereka terpaksa mengungsi karena rumah-rumah mereka di genangi air dengan ketinggian air bervariasi. disamping itu juga terjadi kerusakan puluhan rumah milik warga,  beberapa jembatan ambruk, bahkan seorang bocah Rahmadani(14) di Gampong Masjid  Kecamatan Nurussalam kehilangan nyawa terseret arus banjir.

Selanjutnya dampak banjir yang meluas telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi masyarakat, terdapat ribuan hektar tanaman padi milik petani dibeberapa kecamatan  yang baru beberapa hari siap  ditanam diperkirakan musnah, jika pun tidak menyebabkan mati tanaman padi, hasil produksi nya pun dapat diperkirakan hasil nya anjlok drastis. begitu juga halnya dengan lahan perkebunan palawija milik pekebun belum diketahui tingkat kerugian karena semua kerusakan dan kerugian belum terdata.

Selain itu ada ratusan tambak yang tenggelam karena debit air gelombang pasang naik juga banjir bawaan (hulu) telah menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi petani tambak, sematang tambak putus, semua ikan dan udang yang mereka budiyakan hanyut bersama air. 

Banjir yang terjadi secara meluas dan terparah diakhir tahun 2020 di Kabupaten Aceh Timur disebabkan  tingkat curah hujan yang sangat tinggi, dimana intensitas hujan yang sangat tinggi meluapnya beberapa sungai yang ada di Aceh Timur seperti Sungai Arakundo, dan Sungai lain nya.

Bencana ini tentu tak terlepas dari dampak deforestasi(kerusakan hutan) di Aceh Timur  kian massive, kegundulan hutan telah menyebabkan  daya serap air makin sedikit karena kehilangan penyangga. alih fungsi hutan menjadi areal produksi Kelapa Sawit yang digarap oleh puluhan perusahaan pemegang izin HGU mencapai ratusan ribu hektar, telah meyebabkan kehilangan hutan yang cukup luas dan besar di Aceh Timur.

Bukan hanya persoalan alih fungsi hutan menjadi lahan produksi, maraknya aktivitas ilegal logging dan galian C ilegal menjadi  pemicu penyebab kerusakan hutan di Aceh Timur. Maka dari tahun ke tahun perluasan garapan lahan semakin meluas dan meningkat, sepertinya tidak akan terbendung lagi, hal ini karena kepedulian Pemerintah Aceh Timur terhadap usaha penyelamatan hutan sangat lemah dan terkesan adanya pembiaran.

Kerusakan  dan kegundulan  hutan bukan hanya berdampak pada bencana banjir, tapi berpotensi terjadinya longsor, perubahan iklim dan cuaca.

Segelintir oknum yang membalak hutan dan pengusaha luar Aceh yang menikmati keuntungan dari hasil kekayaan hutan alam Aceh, masyarakat Aceh Timur yang menanggung resiko dan menghadapi bencana, padahal masyarakat tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari usaha mereka, PAD saja tidak jelas.

Jika terus berlanjut dan tidak ada usaha penyelamatan hutan Aceh Timur tidak mustahil bencana banjir lebih besar  lagi akan terjadi di Aceh Timur dimasa masa yang akan datang, bila tidak ada upaya dari Pemerintah Aceh Timur untuk menyelamatkan hutan dan pelestarian lingkungan(restorasi).

Pemerintah Aceh Timur harus melakukan penyelamatan hutan yang tersisa, dan melakukan pengawasan secara ketat terhadap  pelaku ilegal loging, melakukan evaluasi terhadap perusahaan HGU, dan melakukan reboisasi terhadap areal-areal hutan lindung yang telah rusak, jika tidak bencana akan terus terulang setiap tahun saat musim hujan, disamping itu juga kesiapan mitigasi yang lebih kuat jika terjadi bencana besar Pemerintah benar-benar siap dan mencegah korban jiwa.

Ditulis Oleh : Masri,SP (Pegiat Aktivis Sosial Berdomisili di Aceh Timur.


Post a Comment

Previous Post Next Post