Misi Syekhi dan Aksi Gagal 26 Maret Turunkan Wali Nanggroe

Foto : Tgk Sufaini alais Syekhi 

Oleh ; Masri (Mantan Aktivis Sipil)-
Rencana aksi 26 maret 2021 yang dimotori Tgk Sufaini alias Syekhi dan kelompok nya untuk menggulingkan Wali Nanngroe Tgk Malik Mahmud Al-Haytar sempat menarik perhatian publik khusus nya di Aceh.

Syekhi yang mengaku dari GAM Independen menjadi sorotan publik dalam bulan terakhir, keberanian nya ingin menggulingkan WN dan mencabut mandat Panglima GAM/Ketua KPA Munazakir Manaf menjadi issu dan pembicaraan hangat masyarakat Aceh belakangan ini.

Sementara pihak KPA/GAM sendiri menganggap ancaman Syekhi,cs suatu hal yang serius dan tidak main-main, hal itu bisa dilihat dari reaksi  banyaknya tanggapan dari kalangan KPA di beberapa daerah,  serta reaksi Muzakir Manaf sendiri terhadap rencana aksi 26 maret. Walaupun pada akhirnya jelang 26 maret dalam konferensi Pers kamis 25 maret Syekhi mengumumkan kepada publik bahwa rencana aksi menurunkan massa di batalkan dengan alasan menghindari kerumunan dan potensi terjadi pelanggaran prokes.

Pembatalan aksi 26 maret tentu bukan alasan covid-19 semata sebab akan terjadi potensi kerumunan, pasti ada alasan lain yang dipertimbangkan dan diperhitungkan oleh Syekhi,cs.

Lalu apa kira -kira alasan lain sehingga aksi yang sudah direncanakan jauh-jauh hari begitu menggema dengan statement lantang dan kesiapan yang sangat matang tiba-tiba diurungkan.

Jika dilihat dari berbagai komentar netizen di media sosial, terdapat sejumlah komentar beragam menanggapi kegagalan misi heroik yang di jalankan oleh Syekhi,cs. ada yang mengatakan rencana aksi Syekhi hanya sebagai gertak sambal, ada yang menyatakan Syekhi tidak mempunyai basis massa sehingga jika jadi dilakukan aksi dengan jumlah massa yang hadir beberapa orang tentu publik di Aceh bisa menilai bahwa kredibilitas Syekhi tidak punya pengikut dan pengaruh ibarat pepatah tong kosong nyaring bunyi nya.

Ada juga spekulasi mengatakan misi Syekhi gagal dilakukan karena tidak memiliki biaya untuk memobilisasi massa dengan jumlah banyak, baik untuk kebutuhan transportasi dan konsumsi. Begitu juga ada yang menyindir Syekhi ketakutan karena massa tandingan lebih banyak dari KPA seluruh Aceh sudah merapat dan berkumpul di Banda Aceh, untuk menghadang massa Syekhi yang akan merengsek ke Gedung Lembaga Wali Nanggroe yang berada di Kawasan Lam Peuneuruet Aceh Besar. atau rencana aksi mundur selangkah untuk menghindari bentrok fisik.

Namun terlepas apapun alasan nya,   aksi 26 maret tersebut telah gagal dilakukan, awalnya banyak dikalangan masyarakat di Aceh mendukung langkah dan aksi yang dilakukan oleh Syekhi, cs. Dukungan tersebut tak terlepas alasan yang dibangun narasi sangat seksi dan memiliki nilai jual untuk menarik pengaruh masyarakat, bahwa sudah 16 tahun perdamaian MoU Helsinki nasib rakyat Aceh masih terpuruk  dan termiskin di Sumatra . padahal Dana Otsus Aceh puluhan triliun mengalir setiap tahun.

Selanjutnya alasan Syekhi, keberadaan Wali Nanggroe Tgk Malek Mahmud Al-Haytar tidak berfungsi dan tidak bermanfaat apa-apa, padahal rakyat Aceh manaruh harapan kepada WN untuk memperjuangkan implimentasi MoU Helsinki, kesejahteraan mantan kombatan dan rakyat Aceh pada umum nya.

Tak sedikit juga menyayangkan manuver yang dilakukan oleh Syekhi,cs karena bisa merusak perdamaian Aceh yang telah berjalan dengan baik, Aceh bisa kembali kepusara konflik bila aksi-aksi tersebut dilakukan secara meluas, bahkan ada yang menganggap aksi Syekhi bagian dari permainan "Film Klasik" yang menganggap sebagai barisan sakit hati karena tidak mendapatkan peluang dan fasilitas secara ekonomi atau ada aktor lain menjadi sutradara dibalik sosok Syekhi yang punya tujuan dan kepentingan tertentu,apalagi sempat beredar foto syekhi dengan Din Minimi dan Pak Moeldoko mantan Panglima TNI dimedia sosial. masyarakat Aceh semakin penasaran siap sebenarnya sosok Syekhi.

Sikap Syekhi yang membatalkan misinya juga mendapatkan apresiasi karena langkah tersebut sebuah sikap bijak. Paling tidak jika aksi massa gagal dilakukan, WN Tgk Malik Mahmud Al-Haytar dan Muallem bisa menjadi masukan dan evaluasi untuk membenahi kekurangan serta me jadi perhatian serius dalam melihat dinamika baik di internal KPA sendiri maupun masyarakat Aceh.(***)


Post a Comment

Previous Post Next Post