Musisi Asal Aceh Timur Bang Gaess Sukses Rilis Lagu "Teng Paneng"

Bang Gaess nama akrab panggilan sehari-hari Maimunzir, pria asal Desa Meunasah Hagu Kecamatan Nurussalam Kabupaten Aceh Timur, selama ini dikenal sebagai pekerja sosial dan reporter salah satu televisi nasional. tidak banyak yang menyangka dibalik sosok Maimunzir dengan pembawaan nyentrik adalah seorang musisi yang sudah lama melalang buana dalam dunia seni dan music.

Beberapa hari terakhir sukses merilis sebuah lagu yang berjudul "Teng Paneng" dengan arasement khas Balada, Bang Gaess tampil sebagai vokalis tunggal dengan lirik mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Aceh saat ini.

Teng Paneng adalah sebuah diksi yang menggambarkan sebuah kondisi yang sangat kacau, tak menentu. Atau jika dicari padanan lain yang mempunyai makna mendekati kondisi ini, mungkin phak luyak (Aceh) dapat mewakili terminasi teng paneng. Atau mungkin galau tingkat tinggi jika ingin dicoba terjemahkan ke dalam bahasa gaul, dan kacau balau jika anda ingin melihat kamus.

Teng Paneng mewakili kondisi Aceh dalam beberapa hal, setidaknya menurut penulis atau pencipta lagu ini, Nazar Syah Alam. Anda tidak mungkin belum mengenal Nazar yang khas dengan lagu Bek Panik di album Apache yang dirilis pada 2017. Selain Bek Panik, kita semua tentu masih ingat sebuah kisah cinta yang tidak akan pernah ketemu di lagu Mona, #dijih galak keulon, lon galak keugata, gata galak keugob, gob nyan galak keu gob lom# (Dia menyukaiku, tapi aku menyukaimu, sayangnya kamu menyukai orang lain, dan ia ternyata menyukai orang lain lagi). 
Teng Paneng memadukan dua musisi nyentil yang selama ini melakukan kritik-kritik sosial lewat tembang-tembang mereka, Nazar sebagai pencipta lagu dan Mai Munzir kali ini didapuk sebagai vokalis, Nazar mungkin masih kelalahan atau masih mencari solusi untuk Mona.

Munzir tentu bukan pendatang baru, sejak remaja ia sudah terlibat dalam musik jalanan untuk misi-misi sosial. Lalu bersama teman-teman sepakat meembentuk sebuah group band Sanggar Curahan Expresi yang mereka singkat Sanggar Cuex.
Namun lazimnya group band lain, Sanggar Cuex juga mengalami masa-masa fakum ketika masing-masing anggota harus.memilih jalan hidup dan mulai merakit masa depan dengan cara yang berbeda.

Munzir mengabdikan diri pada lembaga-lembaga sosial yang menjalankan program seputar isu anak, disabilitas dan healing trauma untuk korban konflik dan tsnami.
Bara seni yang ada dalam dirinya mendorongnya untuk kembali tampil ke publik setelah melihat beberapa kenyataan yang menggetirkan. Lalu ia tuang dalam nada kritis Hutan Naggroe secara solo, ada Perempuan Perkasa, Untukmu di Jalan dan beberapa lagu lainnya sebagai bentuk keprihatinannya.

Teng Paneng hasil sebuah diskusi yang menjadi sisi positif warung kopi. Idenya klop dalam satu jam, lalu semalaman melakukan record dan mixing. Esoknya proses pengambilan gambar yang dilakukan seharian dan akhirnya jadi.

#Aleh but galak-galak leh cit meukarat
Abeh lampoh-lampoh jirat jipeugala
Hana pike jitimang, yang peunteng fee jih aman
Abeh bak-bak kuburan jiboh tinja#

Bait-bait sentimental ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Namun ini merupakan klimaks dari sebuah sudut pandang awam yang tidak terkontaminasi kebijakan dan kepentingan. dan ini juga bukan tentang Hidup Loe Konten Gue, sebuah slogan produk. Anda mencermati, maka dapat.
Paduan simbi dan beberapa alat musik etnik lainnya membuat lagu yang bergenre balada ini mengajak kaki kita bergoyang sambil mendengar bait-bait yang justru menyentil, paradoks, tapi disitulah daya tariknya, apalagi ditambah suara khas Munzir yang serak.

Bang Gaes, ini julukan Maimunzir di sosmed yang kerap mengkiritisi beberapa keadaan yang menurutnya 'sudah bukan lagi'. dan di ujung Teng Paneng anda akan mendengar sapaan khasnya buat kita semua, gaees..
Sukses untuk Tim Teng Paneng, terus berkarya.(***)

Post a Comment

Previous Post Next Post