Hidup Susah di Negeri Kaya Alam Berlimpah

Foto Ilustrasi

-Banyak yang  frustasi dan stress memikirkan pekerjaan atau membuka usaha untuk sumber pendapatan diri maupun kebutuhan keluarga ditengah kesulitan ekonomi yang dihadapi saat ini, baik di Aceh khusus nya maupun Indonesia pada umum nya.

Setiap orang tentu berharap punya masa depan yang baik dan cerah apalagi kebutuhan hidup semakin besar ditambahkan lagi mengikuti style(gaya hidup) masa kini yang serba mahal. Sebagai orang tua berjuang kuat untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin mulai dari PAUD(Pendidikan Anak Usia Dini), Sekolah Dasar sampai sarjana. bahkan sampai mencapai doktor. dengan harapan besar anaknya kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak atau mempu hidup secara mandiri.

Membiayai sekolah dari tingkat PAUD sampai sarjana mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, begitu juga dengan rentan waktu menghabiskan jangka waktu selama 22 tahun ( 1 tahun PAUD, 6 tahun SD, 3 Tahun SMP, 3 Tahun SMA 3 dan Kuliah S1 selama 6 tahun) belum lagi yang kuliah mengambil S2 dan S3. 

Dilemanya, setelah menjalani pendidikan 22 tahun sudah mendapatkan gelar S1 menjadi pengangguran susah mendapatkan pekerjaan, atau menjadi pekerja bakti di kantor Pemerintah atau guru disekolah  bertahun -tahun dengan honor Rp. 300.000 perbulan.
walaupun harus menjalani sebagai pekerja bakti dengan harapan suatu saat bisa diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara(ASN) meskipun harapan tersebut belum tentu tercapai. 

Menjadi ASN/PNS menjadi suatu incaran dan motivasi untuk kuliah atau berbakti menjadi guru bakti atau bekerja di kantor pemerintah. hal itu dapat dilihat "booming" pelamar saat dibuka lamaran ASN/PNS dengan peserta 1 : 500 yang harus bersaing untuk mendapatkan NIP(Nomor Induk Pegawai). bahkan  ada yang berani memberikan uang 100 juta asal bisa lulus menjadi ASN.

Sulit mendapatkan lowongan pekerjaan telah menyebabkan membludaknya penggangguran yang berdampak pada tatanan sosial masyarakat sehingga terjadinya peningkatan kriminal, angka penceraian makin tinggi, pengidap sakit jiwa kian bertambah dan sebagainya.

Sempitnya  lapangan kerja di Aceh, tidak sedikit warga Aceh yang terpaksa merantau ke pulau jawa dan luar negeri untuk mengadu nasib, meskipun dalam perantauan tidak menjamin mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak. tak sedikit yang harus menjadi kuli bangunan dan buruh kasar "pok sempom" dengan resiko taruhan nyawa. bahkan harus main tikus-tikusan menghindari razia operasi oleh polisi seperti di negara Malaysia, karena takut tertangkap karena tidak miliki dokumen resmi.(***)

Bersambung......




Post a Comment

Previous Post Next Post