Keracunan Gas "Sebuah" Kelalaian PT.Medco E&P Malaka dan Kesepakatan Kompensasi

Oleh : Masri (Pegiat Sosial Berdomisili Aceh Timur)

Puluhan warga Desa Panton Rayeuk T Kecamatan Banda Alam  terpapar gas beracun yang diduga jenis H2S yang bersumber dari aktivitas flaring atau pencucian sumur yang dilakukan PT.Medco E&P dilokasi AS-11, sementara ratusan warga harus diungsikan ketempat yang aman dihalaman kantor Camat Banda Alam.

Adapun kronologis peristiwa tersebut berawal dari Tenaga Ahli PT. Medco E&P Malaka melakukan pembakaran gas sebagai kegiatan rutin pembersihan sumur pada hari Jumat 09 April sekira pukul 3,00 WIB, selanjutnya pada pukul 5.00 WIB pagi beberapa warga mengalami keracunan diduga berasal sisa gas yang dibakar.

Aneh nya, Pihak petugas yang terdiri tenaga ahli tidak mengetahui  adanya warga yang mengalami keracunan karena terhirup udara yang terkontaminasi gas beracun, mereka baru mengetahui setelah ada informasi setelah terjadi keracunan warga yang harus di evakuasi ke Puskesmas Banda Alam dan sebagian lagi harus dirujuk ke RSU Zubir Mahmud Idi Rayeuk bahkan satu warga harus dilarikan ke RSU Zainal Abidin Banda Aceh karena kondisi parah mengalami muntah darah dan sesak berat.

Adanya gas yang menyebar ke pemukiman warga Desa Panton Rayeuk yang berada dilingkar operasi AS-11 dinilai terjadinya kelalaian atau proses kegiatan flaring tidak sesuai Standart Operasional Prosedure(SOP). Kejadian tersebut menuai pertanyaan apakah alat detektor gas yang terpasang dibagian tubuh petugas pencucian sumur dan alarm yang terpasang dilokasi area produksi gas tidak berbunyi.

Ketidaktahuan para petugas flaring terhadap adanya sisa gas yang menyebar apakah sistem detektor gas(detektor tubes) tidak berfungsi begitu juga dengan alarm sehingga hal tersebut sebagian bagian eror machine atau eror human dimana petugas tidak melakukan secara hati-hati dan mengantisipasi adanya gas yang tersisa. Padahal biasa nya setelah pembakaran gas selanjut ditembak dengan air dengan menggunakan peralatan canggih air membentuk seperti kain garden yang membungkus asap gas karena bukan dilakukan pembakaran gas secara manual. 

Kegiatan prepare dan fracturing memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap dampak  lingkungan, terutama terhadap warga yang tinggal dilingkar operasi ekplorasi gas. para petugas saja yang terdiri para ahli yang memiliki safety dengan peralatan Alat Pelindung Diri(APD) yang canggih bisa mengalami potensi resiko yang tinggi, apalagi masyarakat biasa. 

Apalagi dalam proses flaring tidak ada sosialiasi yang massive serta memberikan tanda-tanda peringatan "Early Warning" saat akan dilakukan pencucian dan pembakaran gas.

*Persiapan Mitigasi.
Tingginya resiko terhadap lingkungan terutama manusia yang menghuni sekitar lingkar operasi akibat dampak aktivitas ekplorasi dalam waktu jangka panjang, Desa-desa yang berada daerah zona beresiko tidak ada persiapan mitigasi bencana, baik sosialisasi tentang tanda-tanda resiko terutama mengenal bau gas yang berbahaya terutama terhadap jenis gas H2S, selanjutnya tidak ada persiapan jalur evakuasi yang harus di ikuti dan  dilakukan oleh masyarakat saat terjadi hal-hal buruk seperti yang terjadi di Desa Panton Rayeuk T. 

Ketidaksiapan mitigasi juga terlihat di Polindes dan  Puskesmas, Pemerintah dan Perusahaan tidak menyediakan fasilitas penanganan yang maksimal terutama tidak tersedianya tabung oksigen khusus dan pelindung wajah(facepiece pressure demand SAR dengan auxiliary self-contained air supply)

Bahaya Gas H2S
Gas Hydrogen Sulfida(H2S) merupakan jenis gas yang sangat berbahaya yang terkena atau paparan H2S  berkepanjangan dan konsentrasi tinggi bisa menyebabkan radang mata, sakit kepala, mual, muntah, mudah marah, insomnia, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, dan iritasi pernapasan.

Kalau sudah keracunan, atau terpapar H2S  bisa mengalami kelumpuhan saraf pusat di otak yang bertugas mengontrol paru-paru, sehingga seketika membuat paru-paru berhenti bekerja dan berujung pada sesak nafas. Gas H2S  yang bercampur dengan air di paru-paru juga dapat membentuk zat asam lemah (weak acid). Zat asam lemah dapat menyerang pembuluh darah, sehingga bisa merusak jaringan di sekelilingnya dan mengakibatkan pembengkakan paru-paru, sehingga dapat merusak saluran pernapasan.

*Kejahatan Koorparasi
Peristiwa keracunan gas yang dialami puluhan warga Panton Rayeuk T, menjadi issu nasional yang mendapat perhatian semua pihak terutama bagi LSM dan pegiat lingkungan seperti Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) dan reaksi netizen yang mengecam atas peristiwa tersebut yang mengancam jiwa manusia. 

PT.Medco diminta bertanggung jawab atas keteledoran dan kelalaian sehingga menyebabkan keracunan sejumlah warga, dan ratusan warga harus dievakuasi, peristiwa tersebut menyebabkan sebuah dampak yang besar terhadap ketakutan dan tekanan psikologi bagi masyarakat bukan hanya warga Panton Rayeuk T, karena tidak tertutup kemungkinan terulang peristiwa tersebut yang lebih besar daerah produksi PT.Medco sebab bukan hanya berada satu tempat.

Bila peristiwa tersebut disebabkan kelalaian dan keteledoran yang dilakukan petugas Medco, bisa dikatagorikan sebagai kejahatan koorparasi (Corparation Crime). yang bisa dituntut secara perdata dan pidana.

*Kesepakatan Kompensasi.
Pada hari ke 4 pasca peristiwa keracunan gas dan ratusan warga yang bertahan di lokasi pengungsian atas mediasi tokoh setempat melahirkan kesepakatan diatas kertas putih antara korban dan PT.Medco E&P Malaka yang diantaranya membayar kompensasi 400 ribu perhari sampai pengungsi bisa kembali ke rumah setelah dinyatakan situasi aman dan terdapat 6 point lagi yang harus di penuhi oleh PT.Medco termasuk program pemberdayaan berkelanjutan.

Setelah melahirkan kesepakatan terlepas adanya intrik negosiasi, apakah persoalan tersebut akan berakhir atau dimasa akan datang akan muncul persoalan baru terutama terkait realisasi hasil kesepakatan, kita tunggu saja kelanjutan nya.(***)

Post a Comment

Previous Post Next Post