6 Tahun Beroperasi di Blok A, Medco Belum Menjalankan Prosedure Komplain Secara Baik


Aktivitas. pekerja PT Medco di lokasi AS-11 

Pasca kembalinya masyarakat Desa Panton Rayeuk T kecamatan Banda Alam kabupaten Aceh Timur dari  pengungsian selama 5 hari (9-14/4) yang di akibatkan dari keracunan H2S flaring dari pekerjaan acid fracturing sumur Gas AS 11, blok A PT Medco.E&P Malaka.dan kemudian  di kejutkan kembali dengan adanya warga yg lumpuh dan di rujuk ke Rumah sakit, di duga kuat efek dari keracunan gas yg bersumber dari kegiatan sumur gas medco.

Berbagai polemik dan pemberitaan bermunculan dari insiden tersebut, adanya mediasi sehingga menghasilkan point point penyelesaian sosial dengan membayar kompensasi kepada warga yang terpapar keracunan, bahkan juga isu dugaan main mata  camat dan keuchik dengan perusahaan.

Menyikapi persoalan tersebut menurut kami  ada beberapa aspek yang menyebabkan masyarakat keracunan jika di lihat dari aspek tekhnis maupun sosial. Secara tekhnis dugaan berat ada kelalaian dalam memprediksi jumlah sulfur yang akan di flaring pada flare stake sehingga Sulfur tidak habis terbakar dan tidak habis mengurai di udara sehingga tersisa dan mengakibatkan warga panton Rayeuk T terpapar keracunan.

Dari aspek sosial PT Medco Malaka tidak serius melakukan sosialisasi dengan mengabaikan informasi consent yang berhak diterima oleh warga yang hidup berdampingan dengan proyek pertambangan yg memiliki hight risk pada setiap pekerjaan manufacturingnya. H ini kita peroleh dari beberpa Gampong yg di datangi tim public relation medco seperti Gampong Alue Ie Mirah,Jambo Balee dan Alue Ie Itam, dari keterangan perangkat Gampong mereka hanya menyantuni anak yatim dan tiba tiba spanduk untuk dokumen foto tertulis acid fracturing, tanpa menjelaskan apa jenis pekerjaan tersebut..? Apa dampak dan resiko dari kegiatan tersebut..?.bagaimana sistem evakuasi jika sewaktu - waktu terjadi kebocoran atau human eror.?siapa yang dapat di hubungi jalur evakuasi dan lain sebagainya.

Pengamatan kami kasus seperti ini di duga bisa saja terjadi lagi jika Medco mengabaikan sistem emergency management plan demi keselamatan warga lingkar proyek, padahal medco adalah sebuah perusahaan publik yg mengantogi izin lingkungan dan memiliki dokumen Amdal serta menadatangani surat kemampuan dan kesanggupan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menciptakan iklim sosial yang sehat dengan warga sekitar proyek,

kita sayangkan Medco sudah beroperasional  6 tahun di blok A, akan tetapi sisitem prosedure komplain masyarakat atau di kenal dengan Grievance mechanism belum berjalan dengan baik, semisal jika ada kasus pada siapa masyarakat mengadu, berapa hari di proses, jalan keluar bagaimana dan lain sebagainya.
Bukankah ketentuan regulasi pemerintah jika sebuah company yg memiliki dokumen Amdal, jika lalai dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga berdampak pada pencemaran air, udara apalagi sampai mengganggu kesehatan dan keselamatan masyarakat dapat di gugat secara pidana..?

Kita berharap kepada stakeholder, aktivis elemen masyarakat dan terutama pemerintahan kabupaten Aceh Timur lebih peka terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang hidup berdampingan dengan proyek migas medco yg berdampak dan berisiko tingggi terhadap lingkungan. supaya di perketat pengawasan, monitoring dan laporan kegiatan secara berkala dan di sampaikan kepada publik secara transparan, baik pengelolaan lingkungan maupun sosial.

Oleh ; M. Irwandi (Tokoh Masyarakat Indra Makmue) 

Post a Comment

Previous Post Next Post